Kamis, 08 Desember 2011

Jadi seorang penulis, bisakah?

Hah. .
Mimpiku terlalu muluk tidak ya. .
Yup, aku ingin menjadi penulis sejak masih duduk di kelas4 sekolah dasar.

Pertama kali nulis itu bikin tentang fabel. .
Lalu cerpen, dan novel yang tidak beres terus. Hahahaha.. ˊoˋ

Sampai sekarang, Skilku masih parah. . Entah, sulit sekali memulai dan mengakhirinya jika terlalu banyak ide.

Dan. . . . Kata-kata Tulisanku masih terbilang aneh dan kurang hidup.
Aaargh!

Mau pasrah ga bisa.
Mau lanjut juga, kadang ptus asa duluan. .

Mungkin memang harus perlu banyak inspirasi dari buku-buku lain. .
Entahlah. Aku pusing.

Saat ini deadline lomba saja belum seperempatnya kelar. Padahal 7hari lagi deadline.

Benar-benar sulit menjadi penulis. .
Hah.
Banyak hal yang tidak aku mengerti. Termasuk hal yang 1 ini. .
Yup, aku berbicara jodoh. .

Dia siapa? Maksudku, siapa orang yang menjadi label 'jodoh' ku itu?
Di mana dia akan muncul dan memberitahu 'hei kau yang di sana, aku jodohmu lho. Apa kau percaya?' ?
Kapan jodoh itu bisa ditemukan?
Seperti apa wujudnya jodoh itu?

Ya. . Segalanya itu selalu terbersit ketika aku melihat pacarku saat ini.
Bukan apa-apa. Tapi. . . Aku hanya berpikir, jodohku dia kah? Dan aku akan selalu berharap lebih pada tuhan. . 'jadikan dia jodohku jika bukan dia orangnya'


Aku selalu bertanya. .
Apa ketika kita menikah dan bukan bersama jodoh kita itu akan awet selamanya, bahagia dan harmonis?
Bagaimana jika bertemu jodoh itu saat sudah menikah ?
Bukankah katanya kita harus bersama jodoh kita? Lalu haruskah bercerai?
Bukankah tuhan membenci itu?
Lalu harus bagaimana?


Aku selalu berharap sekali. .
Aku bisa bahagia dengan orang yang bersamaku saat ini. . Sekalipun mungkin dia bukan jodohku.
Hanya saja. . Dia sudah terlalu paham bagaimana aku, dan aku selalu merasa lengkap saat bersamanya. .
Dia lebih baik dari masa laluku, setidaknya sampai saat ini. Semoga memang tetap dia. .
Bisakah?

Tuhan, jika jodohku adalah salah satu orang-orang yang pernah menyakitiku dulu, apa aku bisa bahagia?
Bagaimana jika tidak?

Tuhan. . .
Sungguh, aku minta. .
Siapa jodohku? apa Benar orang yang bersamaku saat ini? Karena. . Aku hanya merasa dia itu jodohku. Sepele sekali kah?
Tuhan, bisakah terus tetap seperti ini dan membiarkanku bahagia?

Aku hanya tak ingin disakiti lagi..

Karena orang yang saat ini, akan dan sudah membuatku terus bahagia.
Syukron,, alhamdulilah. .
Tuhanku. .
Allah swt.

Rabu, 30 November 2011

Eomma Uljima (Ibu.. Jangan Menangis)





Aku butuh ratusan bab unutk mendeskripsikan sosok ini..
Aku harus menuliskan puluhan buku hanya untuk menceritakan sosok ini..
Sosok yang tak pernah terelakkan dalam hidupku.. ibu.

Ibuku bukan seorang ibu yang hebat layaknya ibu kartini atau siapapun, dia hanya seorang ibu. Tidak lebih. Tapi.. perjuangan yang ia berikan di kehidupanku lebih dari yang pernah aku sadari sebelumnya.

Tinggi ibuku saat ini hanya seukuran pundakku, matanya sayu layaknya seseorang yang baru saja menangis sembap dan sesegukan, ia memakai kacamata minus persis sepertiku, kecantikannya melebihi siapapun yang aku kenal di dunia ini, aku tak membual, sungguh, bahkan jika aku disandingkan dengannya, semua orang mengakui——termasuk pacarku— dan berucap “Ibumu cantik, lebih dari kamu”, aku mengangguk setuju. Tentu. Ia memiliki paras yang mempesona, ada sesuatu dalam wajahnya yang menyinarkan sesuatu yang tak pernah aku miliki seumur hidupku, aku iri padanya, karena aku tak pernah menjadi ia, sosok yang aku kagumi selama ini dengan segala kesadaranku.

Jika Tuhan tahu segalanya tentang para umatnya, ibupun dalam konteks yang sama, setidaknya menurutku seperti itu. Ia mengetahui segalanya di luar nalarnya, bahkan terkadang ketika aku belum menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan situasiku saat ini, ibuku sudah tahu, dan itu membuatku frustasi. Benar-benar mustahil bukan? Tapi.. memang itulah salah satu pekerjaan sampingannya, tanpa ia sadari.

Hanya butuh waktu sedetik untuk menarik garis ingatanku tentang ibu, dan garis itu akan memberikan ratusan juta memori yang tersimpan dan aku nikmati sendiri dalam sepiku.
Aku tak pernah mengerti bagaimana Tuhan memberikan kelebihan yang luar biasa padanya, itu membuatku—sekali lagi—iri padanya. Mengapa? Karena Tuhan memberikan ingatan yang yang luar biasa sempurna—tanpa cela sedikitpun padanya. Sampai saat ini dia tahu apa saja yang aku sukai di dunia ini, bahkan sekalipun ia tahu anaknya memiliki ingatan yang bobrok tentangnya, tapi ia dengan sangat mudahnya membuat tarikan garis pada bibirku, hanya karena semangkuk sup kaki ayam untukku.

Ibuku tegar, sungguh, ini bukan kepura-puraan yang aku buat dengan ilusi dan permainan imajiner dalam benakku. Ketegarannya tak terelakkan, bahkan sampai saat ini, aku saja tak pernah bisa menyamai langkahnya yang sudah berada jauh dariku. Aku mengagumi ketegaran ibuku, dan secara nyata aku mengagumi sosok itu dan meradang layaknya virus. Pertama kali aku menyadarinya saat aku masih belum menginjak umur belia. Di mana ibuku sibuk dengan pekerjaan sampingannya yang lain: mempertahankan rumah tangganya.
Sudah lama sejak aku masih belum berumur belasan, aku sudah melihat ibuku banyak menangis. Itu karena ayahku. Ibu tak pernah bicara apapun padaku saat itu, karena dia mengira aku masih kecil. Tanpa sepengetahuannya aku berpikir lebih dewasa dari anak-anak seumuranku. Ya, aku tahu tentang perceraian sejak aku berumur 8 tahun. Saat itu, aku akan diam-diam tiap malam menangis dan berdoa pada Tuhan, agar ibuku tak terpisahkan dariku.

Aku hanya tak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa ibuku, ia yang selalu memasakkan apapun untukku dan adik-adikku, ia yang selalu cerewet tentang mencuci piring masing-masing. Ia yang selalu menyisir rambutku. Sampai pada akhirnya aku tak pernah bisa melihatnya lagi seperti itu.
Layaknya petir, segala halnya menjadi parah saat aku baru lulus SMP. Aku ingat, malam itu pukul 12 malam, aku mendengar ibuku berteriak dari lantai bawah. Aku berlari untuk melindungi ibuku. Ya, aku melihat ia dipukuli oleh ayahku. Ayahku menyeretnya ke kamar, mata ibuku sembap. Aku memukuli ayahku, memukulinya terus, tak pernah berpikir untuk berhenti. Ayahku mendorongku dan mengunci pintunya. Aku memukuli pintu, berteriak layaknya kesetanan… aku mohon berhentiii.. berhenti pukuli ia. Jangan pukuli lagi… dia ibuku..

Itu pertama kalinya aku mengalami depresi. Aku menangis sesegukan di kamarku, menjambak rambutku, meremas bajuku. Ada yang tidak beres pada dadaku. Dadaku panas dan sakit, sungguh… kesakitannya seperti menjalar dalam hitungan sekon. Semua itu karena aku tak pernah ingin melihat ia menangis seperti itu.

Ibuku bilang padaku “Teteh, jangan pernah menangis hingga matamu sembap. Nanti matamu sepertiku”
Ibuku menderita mata kering. Sangat parah. Bahkan dia diprediksikan akan buta jika ia terus menangis. Aku tahu, dia terus menangis akhir-akhir ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa pada Tuhan agar ibuku selalu di sampingku dan baik-baik saja.
Jika kau memiliki banyak pikiran, sel dalam tubuhmu pun akan berinteraksi tidak baik, pikiran adalah sumber penyakit utama, yang bahkan tak ada obatnya. Itu kalimat yang ibuku ucapkan. Setelah ia mengalami sakit entah apa, yang membuatnya terus muntah-muntah parah dan sakit kepala setiap harinya. Ia terus mengunjungi rumah sakit dan meminum obat yang bahkan bukan penawarnya, karena ibuku tak pernah sembuh.
Dua ucapan itu yang masih aku pegang hingga sekarang. Dan berkali-kali pula aku langgar.

Aku pernah tidur di kamar ibuku saat ayahku tidak pulang. Ia yang memintaku menemaninya. Aku tidur di kasur bawah. Dan memejamkan mataku. Aku berpura-pura tidur dan mendengarkan ibuku menangis. Menangis karena ayahku.
Ia menceritakan kesakitannya pada bibiku di telepon.
Ia bilang bahwa ia sakit setiap harinya, bahwa ia saat ini tak bisa lagi melihat cahaya matahari karena mata keringnya, bahwa ia ingin berpisah dari ayahku, tapi.. ia mengaku tak bisa jauh dari anak-anaknya. Ibuku ketakutan luar biasa dalam nada suaranya. Ia bilang, ia tak ingin anak-anaknya jauh darinya. Karena ia yang berhak mengasuhnya, karena ia yang memperhatikannya setiap hari, karena ia yang memasak untuk anak-anaknya, karena ia yang selalu tahu bagaimana anaknya tumbuh, jatuh cinta, sakit, tertawa bahkan saat anaknya mendapat nilai bagus di kelas, ia tahu. Ia yang menyiapkan seragam sekolah anaknya, ia yang memberikan pengharum pakaian agar anaknya wangi. Ia yang mengerti bahwa anaknya memiliki kemampuan yang bahkan ayahnya pun tidak pernah tahu. Seperti ia mengerti bahwa aku suka menulis, belajar bahasa korea, menggambar.. ia tak pernah memaksa anak-anaknya, karena itu ia sadar, anaknya harus bersamanya, tanpa paksaan dibawah perintahnya untuk menyebrangi keahlian anak-anaknya. Ia tahu, anak-anaknya tak pernah bisa jauh darinya. Mereka masih membutuhkannya. Tapi… ia pun tahu, jika ia bercerai, hanya satu orang yang dapat ikut dengannya, dan dua orang lagi tak akan berada di sisinya.
Aku.. menangis entah untuk kesekian kalinya. Menangis dalam diamku. Mencoba menahan agar bantalku tidak basah. Aku.. sampai saat ini pun, tak pernah ingin membiarkannya melihatku menagis. Karena aku sudah berjanji.
“Teh, maaf” ia mencium dahiku, dan aku tahu, ia pasti tahu aku baru menangis karena takut kehilangannya.

Pertama kali ibuku kabur dari rumah saat aku baru masuk SMA, seminggu ia tidak ada bersama adik bungsuku. Aku hanya berdua dengan adik lelakiku. Ayahku? Dia tidak pernah pulang ke rumah seminggu itu.
Aku merasakan segala halnya menjadi jungkir balik. Aku harus mengurusi rumah sendiri. Mencuci, memasak, menyapu, mengepel, dan segala halnya yang dilakukan ibuku. Dalam seharipun ia membuatku sadar, bahwa menjadi ia tak semudah apa yang aku lihat.
Ibuku kembali. Itu membuatku tak bisa menyemburatkan ekspresiku. Aku ingin menangis karena merasa kehilangannya, aku ingin berteriak karena ibuku benar-benar bersikap bodoh bisa meninggalkan aku dengan perkerjaan rumah sialan itu dan menghancurkan rumah dalam sekejap. Tapi aku tahu, ia kembali bukan untuk ayahku, tapi untuk ke3 anaknya.

Dua tahun setelah itu, segala halnya berubah. Aku tak bisa menggunakan rumus fisika apapun untuk mengembalikan ibuku lagi menjadi satu keluarga. Ya. Ia sudah mencapai titik terlemahnya. Ia resmi berpisah dari ayahku saat aku baru naik kelas 12. Itu bukan berarti ia tak memperjuangkan anak-anaknya lagi. Sungguh bukan itu. Aku tahu ibuku dibandingkan siapapun di dunia ini. Ia bercerai karena aku. Ya, aku yang mempersilahkan mengambil jalannya sendiri setelah ia bertanya padaku bolehkan ia bercerai dari ayah. Karena aku tahu, bagaimana kesakitannya ia bersama ayahku selama 17 tahun terakhir. Aku tahu segalanya, dari A hingga Z. Aku tak ingin menjadi orang yang egois yang hanya memikirkan kebahagianku saja. Sekalipun aku tahu, aku akan merasa banyak kehilangannya dalam wujud real di rumah, tapi tak akan pernah membuatku kehilangan rasa sayang yang pernah ia berikan, dan perjuangan mati-matian yang dia rasakan.
Sekalipun aku saat ini tak bisa lagi mendengarnya berkomentar tentang lelaki yang aku pacari saat SMP dan SMA, sekalipun aku tak bisa lagi menikmati masakan ibuku, sekalipun aku tak bisa lagi memeluknya dari belakang saat ia tidur, sekalipun aku tak bisa lagi bercerita bagaimana sekolahku, pelajaranku, ujianku, teman-temanku bahkan tentang bagaimana aku jatuh cinta dan disakiti.. tapi… itu bukan berarti aku akan kehilangan ia selamanya.

Aku masih bisa bertemu dengan ibuku jika aku libur dan ia berkunjung ke kotaku. Ya, aku dan adik lelakiku ikut ayahku, karena masalah biaya sekolah kami.
Saat ini, ibuku sudah menikah dengan pria yang baik, dan menjaganya. Aku harap akan terus seperti itu. Karena, ibuku adalah orang yang paling berarti untukku lebih dari apapun. Karenanya, aku selalu diajarkan berdoa agar Tuhan memberikan lelaki yang baik padaku dan menyayangiku hingga nanti.. karena ibuku, aku merubah pikiranku. Karena ibuku.. aku belajar banyak hal tentang rasa sayang pada lawan jenis, tentang ketulusan tanpa pamrih, tentang kesetiaan, tentang pengorbanan, tentang kehidupan..

Dulu.. aku sangat membenci Tuhan, karena Ia tidak pernah mendengar doaku dan membiarkan ibuku tetap di sisiku. Karena Tuhan tidak adil padaku, yang membuatku hidup seperti ini, trauma seperti ini, ketakutan akan kehilangan yang terlalu diambang batas, ketidakadilan bahwa aku seperti tak disayang olehNya.
Tapi saat ini aku mengerti.. Tuhan punya maksud lain. Tuhan tak akan memberikan sesuatu yang lebih dibalik ini semua bukan? Ya.. Tuhan saat ini memberikan aku 2 ibu dan 2 ayah.. bisa dibilang itu kelebihan dari semua ini bukan?
Aku harap mereka akan selalu baik-baik saja.

Dan… ibu… terima kasih untuk segala halnya yang kau berikan.
Terima kasih karena mau menjaga anak perempuan sepertiku yang tak bisa dibanggakan hingga saat ini.
Terima kasih karena sabar menunggu keberhasilanku..
Terima kasih karena bersedia mendengar cerita menjemukan tentang kehidupanku.
Terima kasih masih bersedia merawatku sampai seperti ini..
Terima kasih masih bersedia merindukanku..
Terima kasih karena mengajarkanku banyak hal..
Teruma kasih bahwa kau tak pernah lelah dengan sikapku ini..
Terima kasih karena… mau melahirkan aku dan mengorbankan segalanya untukku..

Aku berharap kau terus menunggu keberhasilanku, jangan pernah bosan.. sungguh. Aku berjanji dan menepatinya.
Aku berharap kau memiliki umur yang panjang hingga kau dapat melihatku menikah dan memiliki suami yang benar-benar menyayangiku, sama seperti apa yang kau harapkan dan doakan selama ini.. untuk menggantikan kisahmu yang tak pernah terwujud pada pernikahan pertamamu, Ibu..

Ibu.. aku sungguh menyayangimu. Sungguh. Sampai kau keriput nantipun aku akan terus menyayangimu.
Ibu,, jangan menangis lagi.. aku mohon. Segalanya tak pernah baik-baik saja padaku ketika aku menangis karenamu. Kau tak ingin mataku sembap karena menangiskan?
Jangan membuatku melanggar janjiku lagi.. setidaknya, aku tak ingin menangis karena kau yang kesakitan lagi. Aku tak akan sanggup.

Ibu.. maaf.. sungguh… maaf untuk semuanya..
Maaf karena aku lebih menyebalkan dari yang kau kira..
Maaf karena aku belum bisa memberikan apapun selain menyusahkanmu, benar-benar tak bisa dibanggakan bukan?
Maaf .. atas segala halnya sejak kau melahirkan aku 19 tahun yang lalu..
Maaf.. karena aku hanya bisa meminta maaf padamu..



Ibu.. di sini, aku menulis segala hal tentangmu.. yang bahkan tak mengisahkan ¼ pun dari kisahmu.. maafkan aku ibu.. karena aku tak pandai bercerita sepertimu..






Dari Hany Fauziyah Fitri.
Puterimu yang selalu membalas rindumu. Selalu.

Sabtu, 18 Juni 2011

setahun lalu. Semuanya sudah berubah

Hei follower =) **celinguk" kagak ada siapa" :p
udah hampir setaun aku ga ke sini,.,, banyak banget yang berubah..
dan... aku perlu banyak halaman entri baru untuk mengisi hal" baru untuk setaun ini..

aku sudah mahasiswa, tentu saja. di kampus yang saya tak mengira akan terjebak di sini. karena tidak sesuai perkiraan saya...
hahahaha

saya sudah mendapatkan pengganti Mr.Bunglon.. bahkan saya sudah 2x berpacaran setelah dia. Mungkin saya akan menceritakan itu suatu saat nanati =)

saya sedang UAS saat ini..
daaaannnnn amu liburrrrrr yeaaaaaaaaaaaaaahhhhh
but..
Its so long holiday, I Think.. And I need a job for my holiday. maybe I shall getting bored someday...

doain aja... semoga dapet kerja... dan... Tuhan masih tetap ada disampingku, sekalipun aku terus mengecewakannya berkali-kali...

Bye...
untuk saat ini, saya cukup bercerita ini saja ^^

Rabu, 08 September 2010

Hah. . Ga kerasa udah lebaran T.T

Assalamualaikum readersku =) tumben sufi. Biasanya nyapa pke bhasa preman. Lol

ga kerasa udah 1blan puasa. Dan . . ALAMAK BESOK LEBARAN! ! *lari" keliling lapang*

buat semuanya. . Aku mau ngucapin:
تقبل لله مناومنكم صيمنا وصيمكم من الآعيدين والفائزين

=DD
Maafin aku, manusia hina ini. . >.<
karena aku bukan manusia sempurna yg luput dr ksalahan. Uhuk uhuk U.U

skali lagi. .
MET IDUL FITRI 1931 H!

Senin, 06 September 2010

Ga enaknya jadi CEWE, GADIS, WANITA, LADY, GIRL.. =.=

Ohaiyla my blog, folower and readers =D
Are you fine? *senggol"*
karena saya udah puas curhat di net-diary ini tadi, skarang mau ngepost hal yang geje tapi emang bener. Hahaha. . Bingung? Sama! *lho?*

hmm. . Knapa aku ksih judul kaya gini buat postan kali ini? Karena aku CEWE bukan BENCONG jadijadian! Errr~
dan selama jadi cewe maksudnya bkal jadi cowo nih nanti? *abaikan kalimat ini, aku ngerasain dan meneliti *cieh bhasanya* GA ENAKNYA JADI CEWE! Huwahuwahuwa. . .
Mau tau?
Taraaaa..

1. M.E.N.S.T.R.U.A.S.I
(Yeah! Ini yg bedain cewe bneran sama jejadian)
menstruasi atau sering diblang PMS (Pre Menstruasi Syndrom) sering bikin kesel! Dimana cewe harus ngrasain sakit perut RHUAR BIHASA,
bad mood sepanjang hari (dan cowo jadi korban keganasan cewe" yang lagi PMS. Syukurin! Haha *kbur),
ngeluarin duit lagi buat beli pembalut,
harus ngcek terus ke wc takut tembus waktu hari" pertama,
dan GA BOLEH TIDUR SIANG, why? Ya karena cewe yang lgi PMS di hari lagi banyak"nya, ga boleh tidur siang, itu nyebabin KEBUTAAN! Well, trserah mau percaya atau kaga.. Tapi pernah ada yg ngalamin kaya gtu. . >.<
moga ga pernah kena aku deh. Amin amin!

2. HAMIL
HELO BUAT COWO. . . Pernah ga sih mikir gmana kesiksanya cewe waktu mereka hamil yang notabene bwa" manusia di perutnya? !
Astaga. . Aku byanginnya aja udah ketar ketir. Kayanya berat banget! apalagi kalo anaknya gndut kaya gajah =.=
dan bukan sampe disitu aja masalahnya, tapi, cewe harus ngjagain tuh bayi tetep sehat sampe waktunya M.E.L.A.H.I.R.K.A.N. . Zz
kalo ga dijaga, keguguran bisa dialami cewe T.T *AMITAMIT YA ALLAH*

3. MELAHIRKAN
kalo ngomongin Hamil, pasti ujung ujungnya lahir.
Dan yap. . Proses melahirkan itu ga segampang dan seenak kaya ngupil sama tangan!
Pertaruhan nyawa bisa jadi jaminan! Dan itulah knapa Ibu drajatnya 3x brturut" dihormatin daripada ayah..
Dan menurut surat/hadits, entahlah aku lupa, Wanita yg melahirkan, jika dia meninggal saat baru selesai melahirkan, wanita itu seorang calon penghuni surga. Karena semua dosanya trhapus. Itulah kenapa saat wanita melahirkan, wajahnya putih bersih =) *penglihatan aku aja sih yg ini waktu liat mama nglahirin ade bungsuku*

4. MENYUSUI
lho, kenapa menyusui dianggap ga enak? Padahal ga ada rasa sakit kaya daftar" diatas?
Ya karena menyusui itu butuh KEBERANIAN. .
Bisa kalian bayangin Hei Para Cowo, saat Wanita ada ditempat umum dan anaknya ingin menyusui? Ya, mereka harus menanggung malu Auratnya dilihat selain suaminya..
Slain butuh keberanian, para wanita yang sudah jadi ibu pun harus tahu bgaimana cara melepas anaknya untuk tidak menyusui lagi jika anaknya sudah menginjak umur 2tahun. Dan itu ga semudah membalikkan telapak tangan.. Susah lho.
Aku tau dan ngliat tanteku yang skarang lagi pusing mikirin mau ngelepas anaknya yg umur 2tahun biar ga nyusu lagi. Ckck. .


5. KETEK
Nah lho. Ada Apa Dengan Ketek? =p
yap. . Karena cewe itu mau ga mau harus B.E.R.S.I.H, cowo juga sih sbnernya. Tpi beda sama cewe.
Kalo cewe bedanya keteknya harus rapi dan kinclong, kalo ga gitu, ya.. cowo kaya udah ilfil setengah mati liat cewe brketek lebat. Hahaha.
Beda sama cowo yg boleh kaga cukuran bulu ketek, itu ga akan bikin cewe ilfil. Liatkan perbedaannya? =)

6. VIRGIN
Nah. . Ini yg paling rentan di jaman sekarang...
Cewe cepet banget nyerahin keperawanannya sama cowo..
Pertamanya sih cuma pegang tangan,
lama" cium pipi, terus bibir.. Udah gitu bisa keterusan..
Giliran udah hamil diluar nikah, baru deh nyesel, terus nuntut cowonya. Jyah. . Jijik banget deh gue. .
CEWE EMANG PIHAK YANG DIRUGIIN, TPI SALAH CEWENYA JUGA YG GA BISA JAGA DIRI.. Dengan mengumbar auratnya ke mana" kaya ada label 'SALE' diseluruh badannya.
Cowo itu sbenernya pengen punya cewe yang baik".. Cowo yang bener" baik dan sayang cewe bakal jaga cewenya sampai kapanpun.. Dan ngehargain cewenya.
Itu gimana cewenya juga bisa ngehargain dirinya apa enggak. Kalo cewe udah mau diapa"in, otomatis cowo langsung punya insting 'menyerbu' apa yang ada di depannya. Dan setelah cewe itu udah ngasih segalanya, cowo juga mikir lagi:
'Nih cewe gampangan banget. Jangan" slain sama gue, dia juga pernah lagi'
itu yg buat cowo bisa ninggalin cewe..
Dan slalu cewe yg jadi pihak dirugiin..
So, buat cewe. . Hargain aja deh badan kalian. . Sebelum kalian nyesel. Karena waktu ga bisa diputar ulang. .

BUAT CEWE, kalian makhluk yg patut dijaga dan mendapat pasangan yg baik juga.. Sesuai bgaimana cra kalian memperlakukan diri kalian gimana.. =)

dan. . Inilah postan ku kali ini..
Beginilah ga enaknya jadi jenis sepertiku.. =")
tapi, ada enaknya juga ko jadi cewe, nanti aku bikin daftarnya ya. .
See u later my blog.

Annyeong ^o^/

2 Years. And I Can't Wake Up.

2 tahun.
Ya, hampir 2 tahun aku ga pernah lgi benar" jatuh cinta.
Menyukai dan menyayangi lawan jenisku.. Hanya karena bayangan masa lalu.

I'm silly girl. I know it. But, I dunno what happen with me. Maybe, I still remember him. Yeah. . Him, my first love. Fool right? ;___;

aku hanya masih ingat dia. Aku udah ga sayang dia lagi.. Mungkin. Ck!
Entahlah.
Aku bingung dengan cara pandangku pada lelaki selain dia. Dan bingung apa memang karena masa laluku itu aku hanya bisa jalan ditempat?

Dia. Sosok yang sempurna untukku, yeah stidaknya aku merasa begitu.
Fisiknya menawan untukku.
Tingginya yang menjuntai.
Warna kulitnya yg coklat.
Badannya yg kurus.
Bentuk wajahnya yg oval.
Hidungnya yang mancung.
Rambutnya yang berantakan dan hitam legam.
Semuanya membuatku tak bisa mengindahkan mataku darinya. .

Aku menyukai suaranya.
Aku menyukai caranya bermain alat musik.
Aku menyukai dia yang berada diposisi bassict.
Aku menyukai kejailannya.
Aku menyukai sikap egoisnya.
Aku menyukai sikap cueknya.
Aku menyukai segala hal yang melekat pada dirinya. Hingga membuat dia menawan dan menjerat pikiranku.

Mungkin dia memang tak setampan Daniel Radcliffe.
Mungkin dia memang tak seseksi Brad Pritt.
Dia yang tak semacho Taylor Lautner.
Dia yang tak seimut Justin Bieber.
Dan tak semenawan Nabi Yusuf As.
Tapi untukku. Dia perfect. Perpaduan paling sempurna yang sangat menarik.
Itu yang kusuka darinya, karena dia mempunyai fisik, sikap, dan sifat yang tak benar-benar sempurna..

Aku yang pertama kali jatuh cinta, dan itu padanya di tahun 2004.
Aku yang menjadi cinta pertamanya.
Dia yang menjadi pacar ke4 ku di tahun 2008.
Aku yang menjadi pacar ke8nya.
Dengan nyatanya, aku bahkan masih mengingatnya 2tahun ini. Tidak dengan dia.
Dia entah berapa kali berpacaran setelahku..
Sedangkan aku dengan tololnya seperti masih brharap dia akan kembali..

Mungkin rasa ini akan tetap menjadi cinta sebelah tangan. Dengan aku yang menjadi pihak dirugikan, karena hanya aku yang masih mengingatnya,
masih merindunya,
ingin mendengar suaranya,
ingin brtemu dengannya,
ingin menatapnya dan brbicara padanya..

Tapi pada akhirnya stiap detik aku berlari dan brharap mendapat penggantinya, aku akan ditarik lagi oleh alam hingga aku melihat bayangannya lagi..

Mungkin aku butuh waktu..
Butuh seseorang yang lbih dari dia..
Butuh campur tangan Tuhan lagi, tentunya..


Suatu saat aku akan mengisi blog ini dengan sosok lelaki slain dia. Yeah. . Aku yakin itu.

To: Lelaki dalam diaryku
from: Gadis yg brada di masa 2004